Pidato Pelantikan Rektor ITB

Yang saya muliakan para Guru Besar
Yang terhormat Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang terhormat Para Pejabat Daerah Jawa Barat
Yang terhormat Anggota Majelis Wali Amanah…
Yang terhormat Pimpinan Senat ITB…
Yang terhormat Saudara Rektor ITB…
Yang saya cintai mahasiswa sekalian sebagai “the rising generation”…
Para hadirin sekalian

Selamat pagi.
Hadirin yang berbahagia, sudah sepatutnya kita bersyukur kehadirat Illahi Rabbi, karena hanya berkat ridho-Nya kita semua dapat bersama dalam majelis yang berbahagia pagi hari ini. Kita juga harus bersyukur karena kadar kemitraan sesama warga ITB dan para stakeholders telah memungkinkan pemilihan Rektor baru terselenggara secara baik dan lancar, terbuka dan demokratis.

Hari ini juga merupakan hari bersejarah bagi saya. Adalah suatu kebahagiaan sekaligus kehormatan besar untuk dapat mewakili Majelis Wali Amanah ITB guna menyampaikan pesan seperti ini dihadapan segenap keluarga besar dan para pecinta ITB.

Pidato yang disusun berdasarkan sumbang saran berbagai pihak bertajuk: “MEMBANGUNKAN ROH ITB”. Semoga segala yang disampaikan ini menyentuh sanubari, menggugah imajinasi, mencerahkan akal budi, menggerakkan kita untuk membangun sebuah komunitas akademik yang tangguh. Yang bukan hanya mampu meningkatkan kwalitas ITB itu sendiri, tetapi lebih maju lagi, mampu memberikan essensi yang berkarakter bagi eksistensi Bangsa.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati.

Marilah kita mulai dengan menelusuri pemahaman ITB sebagai Universitas. Universitas atau perguruan tinggi yang terdiri dari atas fakultas-fakultas yang mengajarkan bidang-bidang ilmu tertentu tadi. Tetapi jangan dilupakan bahwa kata universitas berasal atau berhubungan dengan kata universum (alam semesta). Oleh karenanya, universitas bukanlah sekedar balairung ajar-mengajar ilmu pengetahuan untuk menghasilkan sarjana-sarjana bidang tertentu saja, melainkan lebih dari itu, juga untuk belajar lebih mengenali, menghayati dan memahami alam semesta. Oleh karena itu, seyogyanya ITB tidak sekedar menghasilkan “insinyur tukang”, melainkan juga melahirkan pemikir yang mengenali dan mengerti keterkaitan disiplin ilmunya dengan realitas kehidupan alam sosial, budaya, ekonomi, ekologi, politik, dll, – yang melingkari kehidupan masyarakatnya. Sebagaimana telah dibuktikan oleh kepeloporan dan kejuangan alumni ITB yang telah mewakafkan dirinya untuk Bangsa, seperti Bung Karno, Djuanda, Sutami, maupun yang lainnya.

Kita ketahui sebagaimana universitas lainnya di negeri ini, ITB memiliki apa yang sering kita sebut sebagai Tri Darma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Memang, kata kunci di sini adalah pengabdian. Akan tetapi bentuk dan dampak pengabdian itu sendiri tergantung pada mutu serta rupa pendidikan dan penelitian seperti apa yang diberikan. Di sinilah relevansi kita berbicara tentang Roh ITB, jiwa ITB, semangat ITB, atau identitas khas ITB. Seorang filsuf besar, Betrand Russel, pernah mengemukakan bahwa: “ada dua dampak ilmu pengetahuan yang saling bertentangan terhadap pandangan kita tentang umat manusia dalam alam semesta, yang satu merendahkan manusia – sedang yang lain memuliakannya”. Oleh karena itu, segenap proses dan tujuan pendidikan, penelitian, dan pengabdian ITB harus bermuara pada pemuliaan manusia, pemuliaan bangsa dan Ibu Pertiwi. Tetapi untuk dapat mencapai tahap itu, kita harus memiliki semangat dan keberanian Galileo dalam menyuarakan kebenaran, betapapun besarnya tantangan.

Saudara-saudara sekalian.

Berhubungan dengan hal tadi, Bung Karno, sebagai seorang insinyur alumnus THS/ITB, seorang pejuang kemerdekaan, dan seorang proklamator, pernah menyampaikan pidatonya dikampus ini yang berjudul: “Ilmu Teknik Harus Mengabdi Masyarakat Adil dan Makmur” tatkala beliau dianugerahkan Doctor Honoris Causa di bidang Ilmu Teknik oleh ITB pada tanggal 13 September 1962. Dalam pidatonya itu ada beberapa point penting yang masih sangat relevan bagi Bangsa sekarang ini.

Pertama, Tujuan kita yang tertentu sebagai bangsa, dus juga sebagai manusia Indonesia adalah membuat hidup kita lebih nyaman daripada sekarang ini dengan cara mengadakan satu masyarakat adil dan makmur di tanah air Indonesia, satu masyarakat tanpa exploitation de l’homme par l’homme; Kedua, mungkin tujuan di negeri lain meskipun an sich maksudnya membuat hidup lebih nyaman, tetapi dalam kontes-kontes yang lebih besar tidak untuk membuat yang adil dan makmur, malahan teknik di beberapa negara yang hebat…adalah nyata-nyata teknik yang tidak menuju kepada masyarakat adil dan makmur; dan, Ketiga, Bung Karno menganjurkan agar senantiasa melakukan seek and reseek, think and rethink yang dilandasi oleh dedication of life kita yang tertinggi membuat Indonesia gemah ripah loh jinawi, membuat Indonesia satu tanah air yang besar, membuat Indonesia satu negara yang kuat, membuat masyarakat Indonesia ini satu masyarakat adil dan makmur.

Sesungguhnya apa yang disampaikan Bung Karno itu berlandaskan pada tujuan berdirinya negara Republik Indonesia, yaitu:.. melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tetapi prasyarat mencapai tujuan ini adalah Trisakti, yaitu: berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Dalam kaitan itu, ITB sebagai masyarakat ilmiah, yang merupakan bagian integral dari bangsa Indonesia, harus dapat senantiasa mengabdi pada tujuan berdirinya Negara Republik Indonesia tersebut. Untuk itu, sekali lagi, seyogyanyalah segenap proses pendidikan, penelitian dan pengabdian kita bermuara pada terwujudnya tujuan bangsa tersebut, bukan sebaliknya.

Para hadirin yang saya hormati.

Sebagai bangsa bekas jajahan, sampai saat ini masyarakat Indonesia masih memiliki kelembagaan ekstraktif warisan kolonialisme maupun feodalisme. Pada saat yang sama, masyarakat yang masih terbelenggu ini sedang mengalami transisi dari alam otoriter ke alam demokrasi. Di sisi lainnya lagi, Bangsa Indonesia mau tidak mau, suka tidak suka harus masuk ke dalam pusaran arus deras globalisasi sistem ekonomi pasar (neoliberalisme) yang ditandai dengan leluasanya gerak modal negara maju menerjang batas-batas kedaulatan negara berkembang. Maka jelaslah bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang bersifat multidimensional. Di sini timbul kemudian pertanyaan yang menyesakkan dada, apa yang dapat kita sumbangkan untuk mengatasi tantangan bangsa tersebut?

Sudah jamak diketahui bahwa kemajuan suatu bangsa antara lain dilihat dari kemampuan bangsa itu di dalam mengembangkan ilmu dan menguasai teknologi. Namun, dalam hal ini hendaknya kita belajar dari pengalaman masa lalu. Kita mungkin bisa saja bangga mempunyai industri pesawat terbang. Kita mungkin bisa saja bangga memiliki gedung-gedung pencakar langit. Tetapi, apa makna semua itu bagi seratus juta lebih rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan? Pembangunan ekonomi tiga dasawarsa lalu belangsung di tengah-tengah situasi ketidakberdayaan rakyat menguasai sumber-sumber ekonomi nasional. Industrialisasi dengan pilihan politik teknologi padat modalnya berjalan leluasa di tengah-tengah kelemahan kelembagaan sosial rakyatnya. Fakta membuktikan bahwa pilihan teknologi yang menjadi sandaran pembangunan ekonomi selama masa itu gagal karena tidak berlandaskan pada realitas komposisi dan kualitas sumberdaya Nusantara!

Posisi mayoritas rakyat-nya tetap berada dalam cengkeraman belenggu ketidakadilan struktural. Terbukti bahwa selama lebih tiga dasawarsa berkuasa, rezim Orde Baru tidak mampu mengubah kehidupan sebagian besar rakyatnya secara berarti. Sekitar 80% rakyat kita masih tertinggal di pedesaan/pertanian, dengan tingkat produktifitas yang sangat rendah. Hal ini merupakan sebab sekaligus akibat hingga sekitar 85% rakyat kita hanya mampu menjangkau pendidikan sampai tingkat SD. Belum lagi jika pemandangan ini digandengkan pula dengan berbagai kontras dan disparitas yang terus menganga dalam hal distribusi pendapatan baik intra maupun antar golongan masyarakat, seeprti antara laki-laki dan perempuan, antara industri dan pertanian, antara desa dan kota, maupun antara pusat dan daerah.

Hadirin yang saya muliakan,

Para pemimpin seakan tidak mau memahami penderitaaan rakyat. Tsunami 1997 yang menggulung Bangsa ternyata tidak mampu menjadi ” catastrophic learning experience” bagi para elit. Melihat kesenjangan yang tetap menganga antara retorika dengan kenyataan, yang ditunjukkan masih banyaknya koruptor yang bergentayangan, memaksa kita menyimpulkan bahwa mayoritas elit pemimpin memang munafik. Mereka senantiasa menempatkan diri, keluarga dan golongan di atas kepentingan rakyat. Perkembangan akhir-akhir ini menimbul kekhawatiran pemerintah dalam mewujudkan perubahan hakiki harkat dan martabat Bangsa.

Oleh karena itu ITB harus mampu tampil memberikan teladan dengan menemukan pilihan teknologi yang senafas dan selaras dengan kebutuhan, kemampuan dan kebudayaan rakyat Indonesia – demi mewujudkan masyarakat adil makmur. Artinya, seperti sering saya kemukakan diberbagai kesempatan, agar kita membangun berdasarkan pada paradigma people driven. Dalam hal menentukan pilihan politik teknologi juga sudah semestinya kita lebih people driven, daripada market driven.

Dalam kaitan ini, seyogyanya kita juga mau mencoba untuk menghayati kritik politis atas teknologi sebagaimana juga telah disinggung di depan tadi. Sebagaimana kita ketahui, dikhawatirkan teknologi juga menimbulkan ancaman-ancaman baru yang dapat menimbulkan resiko teror, kerusakan biosphere, dan penghisapan kekayaan alam suatu bangsa secara tidak bertanggung jawab. Di samping itu, kita juga hendaknya sungguh-sungguh membuka diri pada perkembangan pemikiran di bidang teknologi yang berperikemanusiaan, menghormati keberlanjutan, dan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang lebih adil dan manusiawi. Dan, terakhir, oleh karena teknologi bukanlah sesuatu yang bebas nilai, maka perlu dipertimbangkan hadirnya suatu mekanisme kendali sosial atas teknologi, untuk mencegah munculnya teknologi yang merendahkan martabat manusia dan kemanusiaan.

Akhirnya, di penghujung pidato ini, perkenankan saya mengutip Paulo Freire, yang menegaskan bahwa:

“ …… pendidikan yang dituntut oleh situasi kita ialah pendidikan yang membuat manusia berani membicarakan masalah-masalah lingkungannya dan turun tangan dalam lingkungan tersebut, pendidikan yang mampu memperingatkan manusia dari bahaya-bahaya zaman dan memberikan kepercayaan dan kekuatan untuk menghadapi bahaya-bahaya tersebut, bukan pendidikan yang menjadikan akali kita menyerah pada keputusan-keputusan orang lain. Dengan mengajak manusia terus-menerus melakukan penilaian kembali, menganilisis ‘penemuan-penemuan’, menggunakan metode-metode dan proses-proses ilmu pengetahuan, dan melihat diri sendiri dalam hubungan dialektis dengan realitas sosial, pendidikan ini akan menolong manusia untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia dan dengan demikian mengubahnya”.

Anggota majelis yang berbahagia,

Kesempatan ini ingin saya pergunakan untuk menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para Guru Besar “gran personae”, yang telah mengantarkan ITB sampai pada posisi sekarang ini. Keberhasilan ini tidak boleh menina-bobokkan kita, sehingga kita lupa untuk senatiasa “…. learn, unlearn, and relearn”

Dalam kaitan ini, para cendekia menilai bahwa karakter tidak dapat dibentuk dalam lingkunagn yang tenang. Hanya dalam menghadapi percobaanlah jiwa dapat diperteguh, visi dijernihkan, ambisi dibangkitkan dan keberhasilan diraih. Oleh karena itu, mari kita gunakan musibah yang beruntun ini sebagai momentumuntuk membentuk karakter yang kokoh melalui kaizen, yaitu membangun dan membina kultur kreativitas dan inovasi yang berkelanjutan. Ditengah-tengah badai krisis nilai yang sedang menerpa bangsa, ITB haru teguh sebagai Bastion of Civility, yang senantiasa mengawal nilai-nilai integeritas dan kualitas dengan setia. Harapan terutama kita tempatkan atas para dosen muda kita yang cemerlang. Dedikasi anda sekalianlah yang akan menentukan kemampuan Ganesha untuk menjelma sebagai Vanegshwar yang merakit pelana-pelana agar seluruh Bangsa dapat menunggang gelombang globalisasi.

Kepada Profesor Djoko Santoso, kita ucapkan Selamat, semoga Rabb memberikan kekuatan untuk melaksanakan amanah sebagai Rektor ITB periode 2005-2010 mengantarkan Institut Teknologi Bandung kepada tataran yang lebih tinggi lagi.

MERDEKA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s