Kesenjangan Dan Kemiskinan Menggerus Republik

Akhir-akhir ini ruang disesaki oleh keluhan tentang berbagai muka kemiskinan, termasuk pemancungan Ruyati yang paling sadis. Kesemuanya ini terjadi dalam suasana maraknya pemberitaan mengenai kasus-kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Kegemerlapan para elite berdampingan dengan penderitaan rakyat, bahkan Tokoh Agama Professor Syafii Maarif pun menyatakan secara lantang bahwa keadaan dimana yang 20% menikmati, sedangkan penderitaan terus merupakan keseharian bagi yang 80% lainnya, pada hakekatnya adalah sebuah pengkhianatan oleh para elite kepada rakyat.

Didalam semua kegalauan ini, Presiden SBY mengangkat saya – yang dahulu pernah diangkat Presiden Gus Dur sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang kemudian digugurkan oleh Mbak Mega – sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Penanggulangan Kemiskinan. Dengan legitimasi ini saya akan mengefektifkan diskursus setara dan menjalin kerjasama dengan seluruh komponen masyarakat, baik unsur sipil-militer, dunia usaha, dunia pendidikan, pemuka agama, dan lembaga swadaya masyarakat, guna  mendorong warga miskin menjadi pelaku utama dalam merancang dan menimplementasi strategi menanggulangi kemiskinan diseluruh Nusantara.

Selain itu, saya juga menyadari bahwa dalam usaha memberdayakan saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air yang dibungkam dan dipinggirkan, kita harus dapat menciptakan ruang baru, bahasa baru, dan cara baru. Kita membutuhkan sebuah ruang baru yang dapat mengangkat kepermukaan puluhan ribu kisah WNRI bernurani yang mengulurkan tangan kepada saudaranya – mulai dari ibu-ibu yang menjalankan sekolah dikolong jembatan hingga ke pengusaha yang membagaikan bibit, sarana-produksi lainnya, serta teknologi kepada petani/pekebun rakyat. Dalam ruang baru penuh asa seperti ini, kita tidak lagi menyalahkan korban telah menjadikan kemiskinan  sebagai “kultur” mereka, melainkan mencoba memahami rasionalisasi yang umum terjadi sebagai sebuah “coping mechanism“, cara warga miskin mempertahankan keseimbangan  jiwanya. Dengan bahasa persaudaraan, kita lintasi perbedaan primordial dan semaikan benih-benih kesetia-kawanan.  Melalui dikursus-setara kita coba temu-kenali belenggu kemiskinan dari kaca-mata mereka dan hidupkan kembali cara baru – yang sebenarnya merupakan warisan leluhur – gotong-royong!

HSD 07012011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s